blog, curhatku...


Minggu, 03 Agustus 2008

pertanyaan seorang mahasiswa yang membuat SBY marah!

TYLLA Subijantoro, mahasiswi S-2 ilmu hukum Universitas New Delhi, India, tiba-tiba mencuri perhatian. Pertanyaan Tylla kepada Presiden Yudhoyono konon membuat SBY marah. "Saat berdialog dengan masyarakat Indonesia di India, ada warga yang sejak mulai bicara sampai selesai menjelek-jelekkan negeri kita dan memuji luar negeri. Saya menyesalkan," kata SBY di Tanah Air.

Apa yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada pertemuan 23 November lalu itu? Berikut petikan perbincangan Tylla dengan Basfin Siregar dari Gatra:

Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa sendiri?
Saya tidak terima dibilang menjelek-jelekkan bangsa! Yang saya jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya membandingkan kebijakan Pemerintah India dengan SBY. Saya lihat Pemerintah India memberi subsidi gede banget untuk pendidikan. Adalah salah pemerintah kalau pendidikan di Indonesia makin nggak terjangkau!

Berapa uang kuliah Anda di India?
Untuk program S-2 dua tahun, saya cuma bayar US$ 600, sekitar Rp 6 juta. Itu sudah all-in, sudah admission fee dan tuition fee. Tinggal mikir biaya hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama dengan di Jakarta. Uang US$ 600 itu pun karena saya foreigner yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu dipakai buat subsidi warga India asli. Kalau orang India yang kuliah, setahun bayarnya cuma 700 rupee, sekitar Rp 40.000.

Bagaimana dibandingkan dengan biaya di Indonesia?
Tahun lalu, saya mendaftar program notariat. Untuk semester pertama saja habis Rp 50 juta.

Anda kaget ketika SBY marah?
Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan saya. Melainkan karena waktu SBY ngasih penjelasan, eh, saya malah bisik-bisik ke teman. Saya bilang, ''Ah, SBY mau ngomong apa, nyatanya anaknya disekolahin ke luar negeri juga. Berarti dia setuju pendidikan di luar negeri bagus.''

Reaksi SBY bagaimana?
SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget. Baru sekali sekolah di luar negeri, kok, sudah sombong banget. Soalnya, SBY bilang bahwa dia sudah sembilan kali sekolah di luar negeri, dan pendidikan di Indonesia nggak jelek. Tapi kenyataannya, di ranking dunia, pendidikan Indonesia kan nggak masuk?

Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri bagaimana?
Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk, manggut-manggut minta maaf. Terus saya perhatikan lagi. Tapi saya bisik ke teman itu cuma beberapa detik aja kok. Sepanjang sebelumnya saya juga memperhatikan penjelasan SBY.

Seperti apa jawaban SBY waktu menjawab pertanyaan Anda?
Ya pokoknya pemerintah sudah bekerja, bahwa pendidikan di Indonesia tidak jelek. Pendidikan di luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang lebih jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus waktu menjawab soal buku-buku murah, SBY bilang kalau pemerintah juga sudah menyiapkan content (materi) untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa kepake untuk sekian generasi. Teknis begitu. Itu kan nggak nyambung dengan apa yang saya sampaikan.

Seperti apa subsidi pendidikan di India?
Di sini, buku murah luar biasa, bahkan buku-buku impor karena pemerintah memberi subsidi kertas! Selain itu pemerintah juga bikin kerja sama dengan penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar buku-buku mereka bisa dicetak di India, jadi bisa dijual lebih murah. Buku-buku kuliah saya, kalau dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma Rp 10.000. Kalau di Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp 2,5 juta untuk beli buku saja. Dan karena subsidi kertas itu, harga langganan koran juga murah. Saya itu langganan satu koran, satu majalah berita semacam Gatra, dan satu majalah wanita. Nah, untuk langganan tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110 rupee, atau sekitar Rp 22.000. Selain itu di India, pelajar dapat fasilitas kartu abonemen yang harganya cuma 50 rupee, atau sekitar Rp 10.000, yang berlaku selama empat bulan. Dengan kartu pas itu, selama empat bulan kita bisa gratis naik bis pemerintah jurusan apa aja. Mau keliling-keliling Delhi juga boleh. Meski bisnya bobrok, tapi nyaman. Berhentinya juga cuma di halte. Kartu abonemen itu selain untuk pelajar, juga dikasih untuk pegawai negeri, tentara, orang jompo dan physically disabled (orang cacat). Itu untuk transportasi.

Tidak takut dianggap melebih-lebihkan India?
Lho, justru karena saya cinta bangsa Indonesia, saya ingin pemerintah belajar kepada India. Orang Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya, pemerintah tidak bisa memfasilitasi pendidikan murah. Para insinyur di India mampu bersaing untuk masuk di Microsoft. Sedangkan di Indonesia hanya beberapa orang saja yang beruntung. Maka tolonglah pemerintah bikin agar pendidikan itu affordable.

Tapi, pendidikan di Indonesia kan ada juga bagusnya?
Kalau mau jujur, infrastrukturnya lebih bagus. Di kampus sudah ada lift, whiteboard, pakai OHP. Kalau di sini enggak. Naik dari lantai I ke lantai IV masih manual, masih pakai kapur tulis, terus nggak ada AC. Tapi, kalau kualitas content-nya, kita kurang.

Kalau pengajarnya bagaimana?
Kalau di India enaknya, dosen-dosen itu bisa dihubungi kapan saja. Kayak Amartya Sen, peraih nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private session, masih dilayanin. Nggak susah. Bahkan presidennya sendiri, Abdul Kalam, dia juga mengajar, dan masih bisa ditelepon! Saya pernah bareng mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam. Saya lihat Abdul Kalam itu dikritik mahasiswanya yang orang India, ditunjuk-tunjuk gitu, dia nggak marah kok. Masih santai aja.

Setelah pertemuan dengan SBY itu, apakah Anda ditegur, misalnya oleh orang KBRI?
Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang ribut itu justru pegawai negeri (dari Indonesia) yang tugas belajar ke India. Mereka pada marah. Dibilangnya saya itu anak itik yang baru keluar dari induknya, kaget. Padahal saya kan juga bukan baru pertama kali ke luar negeri. Sebelumnya saya kan juga sempat ikut summer course atau homestay gitu. Tapi kan nggak kompatibel kalau membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Makanya dibandingin dengan India.

Sumber
http://www.te.ugm.ac.id

sori, ni berita jadul banget, kejadiannya pas SBY blom jdi pres.
tujuan belajar selanjutnya: INDIA!

Selasa, 15 Juli 2008

JAKARTA, SENIN - Maraknya program televisi untuk anak yang justru tak layak ditonton anak-anak tentunya mengundang keprihatinan. Komisi Penyiaran Indonesia dan sejumlah penelitian menunjukkan, tak sedikit acara televisi khusus anak yang mengandung unsur kekerasan dan seksual sehingga tak pantas dikonsumsi anak.Pada media Kidia edisi Juni-Juli yang dikeluarkan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), disebutkan daftar acara yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya untuk anak. Ingin tahu?Tayangan televisi yang Aman bagi anak bukan hanya tayangan yang menghibur, melainkan juga memberikan manfaat lebih. Manfaat tersebut, misalnya pendidikan, memberikan motivasi, mengembangkan sikap percaya diri anak, dan penanaman nilai-nilai positif dalam kehidupan. Sekalipun aman, orangtua diimbau mendampingi anak-anak menonton TV.Sementara itu, tayangan yang masuk dalam kategori Hati-hati adalah tayangan anak yang dinilai relatif seimbang antara muatan positif dan negatif. Sering kali tayangan yang masuk kategori ini memberikan nilai hiburan serta pendidikan dan nilai positif, namun juga dinilai mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar yang tidak mencolok.Nah, tayangan yang masuk dalam kategori Bahaya merupakan tayangan yang mengandung lebih banyak muatan negatif, seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar. Kekerasan dan mistis dalam tayangan yang masuk dalam kategori ini dinilai cukup intens sehingga bukan lagi menjadi bentuk pengembangan cerita, tapi sudah menjadi inti cerita. Tayangan dalam kategori ini disarankan untuk tidak disaksikan anak.Berikut ini adalah daftar acara yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya:
AMAN:
Varia Anak (TVRI), Bocah Petualang, Laptop Si Unyil, Jalan Sesama, Cita-citaku, Si Bolang ke Kota, Buku Harian si Unyil (TRANS7), Surat Sahabat, Cerita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), Dora The Explorer, Go! Diego Go!, Chalkzone, Backyardians (TV G), dan Masa Kalah Sama Anak-anak (TV One)
HATI-HATI:
Idola Cilik Seleb, Rapor Idola Cilik Seleb, Doraemon, Pentas Idola Cilik, Rapor Pentas Idola Cilik (RCTI), Casper, Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, Konser Eliminasi 6 AFI Junior (IVM), New Scooby Doo Movie (TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang, Carita De Angel (TVG)
BAHAYA:
Tom & Jerry, Crayon Sinchan (RCTI), Si Entong, Tom & Jerry, Si Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy & The Cockroaches (AN TV), Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom & Jerry (TRANS7), One Piece, Naruto (TVG).
ternyata kartun zaman sekarang, bahaya bro, hati-hati bagi lo yang punya adik.

Minggu, 13 Juli 2008

melongok SD di jepang

Peringatan HARDIKNAS 2 Mei semarak dengan demo dimana-mana. Isinya
kurang lebih tentang pendidikan yang semakin mahal "Mau Pinter Kok
Mahal", "si miskin yang makin tersingkir dari panggung pendidikan".
Adalah PR buat kita semua untuk mewujudkan pendidikan murah namun
berkualitas. Sulit? Pasti, becoz nothing easy, tapi apa tidak mungkin?
Mungkin sekali, becoz nothing is imposibble in the world. Sekedar
sebagai bahan perbandingan, berikut ini ada tulisan ringkas mengenai
sistem dan kondisi sekolah dasar di Jepang. Semoga pendidikan kita
sedang menuju ke arah yang lebih baik.

1. Subsidi Pendidikan
Wajib belajar hingga SLTA masih terus diterapkan di Jepang, dan untuk
itu subsidi pendidikan terus dikucurkan pemerintah, sehingga siswa
hanya membayar "makan siang" sementara buku pelajaran dan fasilitas
pendidikan dibiayai. Di Indonesia? BOS aja dikorup, maklum rakyat
Indonesia sudah menganut aliran kleptokrasi

2. Fasilitas
Kompleks bangunan SD negeri sangat standar, lengkap dengan multi
function hall buat OR dan pentas seni, kolam renang, lapangan
sepakbola. Ruang kelas juga standar, ada TV, DVD player, piano
elektrik, media praktek untuk pelajaran dan OR. Satu kelas ada 30 an
anak. Di Indonesia, jangan berharap macam-macam, gedung masih berdiri
tegak harus disyukuri. Lihat saja berapa gedung yang rusak bahkan
ambruk. Di Jakarta, yang dekat dengan Presiden saja masih luput dari
perhatian, apalagi yang ada di daerah. Bahkan hingga memakan korban
jiwa, sangat "mengagumkan" Indonesia.

3. Kurikulum Sekolah
Keseimbangan antara otak kiri dan kanan sangat dijaga, sehingga jam
pelajaran di kelas, praktek di luar kelas, pentas kesenian, olahraga
(cukup berat bagi tingkat SD sampai belajar sepeda roda satu)
diajarkan. Jumlah mata pelajaran lebih kurang 2/3 dari SD Indonesia,
dan sarat dengan ajaran budi pekerti. Pentas seni sekolah 2 kali
setahun dan semua siswa tampil dengan penonton semua ortu dan
keluarganya. Di kita, pelajaran bejibun ampe stress segala kalau mau
ujian, tapi tetep ga' bikin Indonesia maju, malah terus meningkat
(digitnya nambah maksudnya), menjadi negara yang mutu pendidikannya
terus memburuk, kalah sama Vietnam.

4. PR
Siswa juga diberi pe-er dan orang tua diharuskan mengetahui bahwa pe-
er sudah dilaksanakan, tentu dengan porsi yang pantas. Sabtu memang
libur, tapi siswa tetap diberi tugas kelompok, misalnya berkunjung ke
museum dan diharuskan menulis laporan.

5. Standar Guru
Hampir sama dengan SD waktu saya dulu sekolah, satu kelas ditangani
oleh 1 guru. Bedanya, guru di sana memiliki standar yang lumayan
tinggi. Guru tersebut harus menguasai semua mata pelajaran, termasuk
bisa main piano, bisa praktek olahraga (tetap dengan bantuan
pengawas). Hebat ya, benar-benar jadi role model, pantes kalo gajinya
sebesar dosen. Di Indonesia? Demo kenaikan gaji, minta diangkat PNS,
itu yang menjadi tuntutan utama tapi kinerja????Tapi yang benar2
kinerjanya oke luput dari perhatian. Seperti siswa yang unik, guru
juga unik, harusnya diperlakukan sesuai kompetensinya, yang lebih
bagus ya diberi reward...anggaran 20% untuk pendidikan aja ga'
terealisasi sampai saat ini, gmn mau maju ya?

6. Peran Guru
Guru mempersiapkan kelas sejak pagi, dan mempersiapkan materi untuk
esok harinya. Rata-rata para guru pulang dari sekolah pukul 6 sore.
Guru adalah moderator di kelas, dan murid aktif dengan diskusi. Tapi
gaji guru memang sangat pantas, malahan konon tak jauh beda dengan
dosen perguruan tinggi. Bila ada siswa yang ngga' masuk, maka guru
akan menelpon ortunya, dan saat pulang akan berkunjung ke rumah siswa.
Keren ya....Benar-benar jadi public service, give the best, ga' setengah-
setengah menjadi "pelayan" siswa. Ini yang membuat guru makin
dihormati karena terhadap orang lain sangat menghargai. Indonesia
perlu dicontoh ne hal kecil begini. Harus ada anggaran lebih untuk
telpon atau home visit. Pulang jam berapapun juga mau kalo gaji
sebesar dosen.

7. Kunjungan Sekolah dan PTA

Sebulan sekali ada open kelas, dan orang tua bisa melihat dengan
langsung kegiatan di dalam kelas. Ada Parent Teacher Association (PTA)
dimana para ortu bertemu dan berembug demi kemajuan siswa.
Keberhasilan siswa memang tidak bisa luput dari peran orangtua. Harus
ada kerjasama yang sinergis antara sekolah, guru, staf, dan siswa
dalam proses pembelajaran, it will make our children grow and learn in
a positive atmosphere. Sekolah harus membuka diri akan kritik, pro
perubahan merupakan salah satu ciri esensial jika kita mau sejajar
dengan bangsa-bangsa lain.

8. Pekan OR
Di kita ada Class Meeting dimana para siswa bertanding OR. Yang pinter
basket ya basket, yang pinter ping-pong ya bertanding ping-pong. Lalu
yang ngga bisa apa-apa yang jadi penonton. Sementara di Jepang bila
ada acara tersebut (Undokai) maka semua siswa ikut terlibat. Mereka
dibagi menjadi 4 s/d 5 kelompok yang campur dari unsur kelas 1 s/d 6
(group merah, kuning, putih..dsb). Jadi semua ikut terlibat, dan
bahkan yang cacat badan.

9. Rayoninasi
Sistem Rayon juga diterapkan dan dapat berlangsung dengan nyaman
karena standar SD sama. Hampir semua siswa dapat bersekolah dengan
jarak capai pantas dengan berjalan kaki. Kalau di Kita sekolah-sekolah
berlomba-lomba menjadi yang terbaik "sendirian", karena tidak ada
standar , sehingga atmosfer persaingan sangat terasa. Harusnya bukan
bersaing tapi saling melengkapi. Itu mungkin yang membuat beberapa
tahun lalu banyak SD yang merger dengan SD lain, karena kekurangan
murid. Huh.........

di Indonesia, pendidikan telah dipolitisir. Ganti menteri ganti
kebijakan, semua demi kepentingan yang ga' jelas. Setuju dengan
pernyataan Pak Iwan di JP kemarin (Sabtu, 3 Mei 2008), perlu pendidkan
hati nurani. Selama ini kita mengedepankan mind dan mematikan hati
nurani. Pembakaran masjid Ahmadiyah, penyiksaan terhadap anak,
korupsi, sogok menyogok, tawuran antar desa, perusakan kampus-
anarkisme adalah hasil dari pendidikan kita yang berorientasi hasil,
tidak menghargai proses. Tulisan ini saya dapat dari blogging last
week, komen-nya dari aku sendiri. Maju terus pendidikan Indonesia

sumber: dewisang